Rabu, 16 September 2015

cerita original tugas 2



Dibalik kenikmatan kopi hitam





Kehidupan tidaklah mudah dijalani dengan tangan sendiri ,ataupun melangkah dengan hanya focus kedepan tampa melihat kesamping ataupun melihat kebelakang untuk menjadikan tolak ukur sejauh mana diri kita mampu menjalaninya,selain dorongan dan support dari kedua orang tua kita yang selalu mengiringi doa saat kita melangkah dan memuai sesuatu untain doa orang tualah yang mengiringinya.



Didalam hidup ini pasti mengenal dan selalu berhadapan dengan yang namanya masalah,masalah bertubi tubi datang setiap saat setiap kapanpun dan dimanapun pasti selalu hadir,dengan adanya sebuah permasalah menjadikan diri kita berpikir dan terus berpikir untuk memecahkan masalah tersebut , berbagai solusi dibutuhkan berbagai pendapat dicari dan dicari,tidak lah mudah untuk menjalani hanya dengan tangan dan pikiran sendiri , karena hidup akan terasa sunyi ketika kita hanya mengandalkan diri kita sendiri untuk mengoprasikan semua kehidupan ini ,hidup bagaikan roda yang berputar yang membuat lokomotif terus berjalan dan membawa penumpang bisa merasakan kenyamanan dan sama seperti halnya dengan kehidupan,sesorang yang bia melengkapi kehidupan ini adalah sosok seorang sahabat.sama halnya dengan sebuah roda yang menjalani angkutan umum yang dilengkapi seorang kenek yang selalu mengikuti abang supirnya kemanapun mencari penumpang,dan sahabatpun sama selalu ada disamping kita saat sedih,senang duka gembira dan menangis. Semua kita rasakan bersama sahabat .
Sahabat  tempat mencurahkan perasaan isi hati yang membuat salah satu permasaahan dikehidupan ini,warni warni mewarnai rona mata ini,yang sering kali kita merakan kerinduan akan sosok sahabat ketika kita tidak bertemu sebentarpun atau memberikan kabar yang kadang membuat kta merasa gelisah akan keadaan seorang sahabat.


Warna warna indah itupun akan selalu terlukis didalam memori memori indah dalam hidup yang selalu mengingatkan akan solidaritas sebagai sahabat,dan jadilah sahabt yang benar benar sahabt sepanjang hayat yang selalu berada disamping untuk menghadapi tantangan rintatangan yang harus sama sama kita gebrak tmpa perkecualian seseorang yang didepan atau yang dibelakang tetapi selalu bersama disamping,karena mungkin ketika kita berada didepannya mungkin tidak bisamenjadi pemimpin yang baik bagi seorang sahabat .


Minggu, 23 Agustus 2015

Latihan1

 Borobudur



Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia,[1][2] sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.[3]
Monumen ini terdiri relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[4] Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia.[3] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.[5] Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam.[6] Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.[3]

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.[7][8][9]